pengalaman 2020 membeli Indo Kordsa
Pada hari itu, tidak ada yang bid harga murah bahkan, hanya ada offer. Dan ketika harganya ke 4000an, saya beli BRAM sampai harga 6000. Lalu muncul offer besar di harga 5000. Saya beli semua, jadi total pembelian adalah 100 juta, di masa-masa pandemi tersebut.
Sudah 2 tahun lewat setelahnya, penulis menjual beberapa ketika harganya di 12,000. Lalu membeli lagi di harga 8000, dengan total kepemelikan sekarang 500 lot. Penulis berencana terus menambah BRAM sampai 1000 lot, khususnya di harga 4000-5000 (di kala krisis terjadi lagi).
Namun tidak mudah, beli saham di kala krisis. Kamu tidak tahu titik terang kapan. Apakah tambah baik atau tambah buruk. Misal perang dunia, tidak ada yang tahu kapan selesai; pandemi juga. Dulu waktu spanish flu, orang-orang usia produktif banyak yang meninggal, khusus covid-19 lebih parah kepada orang yang berusia tua. Juga ketika krisis thai baht 1998, tidak ada yang tahu kapan asing masuk ke ASEAN lagi, khususnya ketika rush yang dilakukan dikarenakan sistem peg yang tidak sustainable. Yang beli saham pada situasi tersebut, adalah mereka yang yakin rupiah akan membaik. Tapi bagaimana kalau kedepan kejadian mickey mouse currency terulang lagi? Masalahnya adalah kapan membaiknya.
Membeli saham itu pasti ada porsi ketidakpastiannya. Namun enaknya, anda tidak perlu memilih orang; anda tidak perlu bersosial dengan orang. Dan segala drama, yang membuat bisnis kecil bangkrut, atau pecah, itu tidak terjadi, karena perusahaan-perusahaan besar ini sudah melewat itu semua dengan baik.
Pemegang saham itu tidak suka ketidakpastian, khususnya kalau mereka tidak tahu kapan membaiknya. Hal ini membuat mereka meninggalkan saham, harganya menjadi amat murah, karena tidak tahu kan kapan membaiknya. Kalau ditanya, mereka hanya bisa bilang, hanya Tuhan yang tahu. Seperti anda punya anak, lalu mereka sakit, memang anda bisa tau kapan anak anda sehat? Seperti itulah situasi krisis.
Membeli saham itu pasti ada porsi ketidakpastiannya. Namun enaknya, anda tidak perlu memilih orang; anda tidak perlu bersosial dengan orang. Dan segala drama, yang membuat bisnis kecil bangkrut, atau pecah, itu tidak terjadi, karena perusahaan-perusahaan besar ini sudah melewat itu semua dengan baik.
Pemegang saham itu tidak suka ketidakpastian, khususnya kalau mereka tidak tahu kapan membaiknya. Hal ini membuat mereka meninggalkan saham, harganya menjadi amat murah, karena tidak tahu kan kapan membaiknya. Kalau ditanya, mereka hanya bisa bilang, hanya Tuhan yang tahu. Seperti anda punya anak, lalu mereka sakit, memang anda bisa tau kapan anak anda sehat? Seperti itulah situasi krisis.
Dan makanya di harga 5000 waktu itu ada yang jual banyak sekali.
Perusahaan ini sangat bagus. Sekarang kalau kita liat, Thailand memegang porsi manufaktur mobil terbesar di ASEAN. Dan pengusaha Indo Kordsa itu dulu dibuat oleh salah satu the gang of four. Anda bisa bayangkan, mereka sudah melihat Thailand dan Indonesia menjadi pemegang pasar manufaktur mobil di ASEAN. Sampai sekarang, belum ada ekspansi manufaktur mobil karena kapasitas sudah melebihi produksi, sebesar 100%. Kalau sudah terutilisasi penuh, tentu BRAM terus bertumbuh - selama mobil, serta pesawat bertambah banyak, manusia bertambah banyak, bisnis logistik makin menjamur, dunia semakin terintegrasi.
Mengenai Indo Kordsa lebih akan penulis tulis di blogpost berikutnya.
Perusahaan ini sangat bagus. Sekarang kalau kita liat, Thailand memegang porsi manufaktur mobil terbesar di ASEAN. Dan pengusaha Indo Kordsa itu dulu dibuat oleh salah satu the gang of four. Anda bisa bayangkan, mereka sudah melihat Thailand dan Indonesia menjadi pemegang pasar manufaktur mobil di ASEAN. Sampai sekarang, belum ada ekspansi manufaktur mobil karena kapasitas sudah melebihi produksi, sebesar 100%. Kalau sudah terutilisasi penuh, tentu BRAM terus bertumbuh - selama mobil, serta pesawat bertambah banyak, manusia bertambah banyak, bisnis logistik makin menjamur, dunia semakin terintegrasi.
Mengenai Indo Kordsa lebih akan penulis tulis di blogpost berikutnya.
