Indo Kordsa




Sejarah Singkat:

Pada tahun 1987, kapasitasnya adalah 12 kiloton (berawal dari 3.2 kiloton diangkat menjadi 16 kiloton ditahun kedepan). Mesinnya adalah mesin impor. 2 tahun kemudian, Branta Mulia bekerjasama dengan DuPont untuk mendapatkan lisensi teknologi terbaru memproduksikan kain ban nylon 6,6. Dengan lisensi ini, Branta Mulia dapat partner bisnis baru selain Goodyear dan Bridgestone dan dipercayakan untuk memproduksi produk-produk DuPont lainnya.



Dahulu market sharenya adalah 6,6% di ASEAN. Karena ini adalah perusahaan satu-satunya di Indonesia yang mengurangi impor kain ban, pemerintah memberikan proteksi (misalnya menaikkan tarif impor kain ban).

Nah sejak 1990, akhirnya Branta Mulia IPO, tahun 1994 kapasitasnya jadi 18 kiloton. Produksinya dulu 80% nilon, 20% polyester tyrecord. Lalu pada tahun 1993, mereka berencana berekspansi ke negara produsen mobil lain yaitu Thailand, berkongsi dengan Bangkok bank dan TTI Group. Di tahun itu juga, Branta Mulia membangun perusahaan kerjasama dengan Teijin untuk memproduksi kain ban polyester sendiri (yang sekarang sudah merger, yaitu Indo Kordsa Polyester).

Pada tahun 1997, DuPont akhirnya melirik Branta Mulia, dan membeli 20% sharesnya.

Dan darisana, DuPont yang adalah pengembang pertama nylon 6,6 sendiri, akan secara langsung turun tangan, mensinergikan caranya ke dalam bisnis Branta Mulia kedepan.

Singkat cerita, pada tahun 1999, Branta Mulia diperkirakan menguasai sekitar 60% pangsa pasar kain ban di Asia Pasifik.

Singkat cerita, pada tahun 2006, DuPont akhirnya melepas kepemilikannya untuk dibeli pemegang saham Branta Mulia. Tidak lama setelah hal ini terjadi, pada tahun yang sama, Kordsa membeli 50% saham dari Branta Mulai dengan PE 50x. Pada akhirnya kedua kejadian di tahun 2006 ini menjelaskan kenapa namanya berubah menjadi Indo Kordsa dan mengapa ada kepemilikan perorangan yang masih besar (karena mereka beli dari DuPont, lalu sebagian mereka jual lagi ke Kordsa).

Nah sisa sejarah Indo Korsda ini dapat dibaca di laporan tahunan Indo Kordsa. Meski ada track record growth karena ekspansi yang dilakukan pada tahun 2012-2014, kapasitas Indo Kordsa sekarang masih 60 kiloton.





Industri Landscape:
Mengapa bisa terjadi tender offer oleh Kordsa? Karena industri landscape bisnis tyre cord (bahan baku) adalah karena industrinya consolidated. Hanya sedikit pemain yang bermain, bahkan sampai sekarang. 

Hyosung Advanced Material memproduksi 1 dari 2 kain ban polyester untuk dunia, begitu juga kordsa memproduksi 1 dari 3 kain ban polyester untuk dunia. Jika ditotalkan itu sudah 5/6 market share diambil 2 pemain. Dan sisanya ada Kolon, Century Enka, SRF, Kodarna Plus di berbagai segmen geografis.

pengetahuan general mengenai landscape bisnis seperti ini bisa dibaca di:
The Consolidation Curve (hbr.org)

Merger, akuisisi itu suka terjadi di landscape industri yang pemainnya sedikit. Contohnya Branta Mulai diakuisisi Kordsa, kalau kita sudah tau landscape industri Branta Mulia, kita bisa mengira kedepan akan terjadi akuisisi. Apalagi, BRAM adalah pemain utama dulu, dan juga Kordsa suka mencaplok perusahaan bekas DuPont (sudah merupakan ciri khasnya untuk menjadi pemain utama nylon di dunia).

Dengan begini, apakah ada perusahaan yang memiliki landscape industri serupa yang kamu tau di IHSG? 

Key Growth:
Dalam benakmu, pasti terfikirkan apakah mudah untuk pesaing mengambil segmen pasar di geografis lain? Jika mudah jawabannya, maka Kordsa tidak perlu membeli Branta Mulia di harga PE tinggi. 

Kenyataannya adalah tidak mudah. Dengan tidak melakukan akuisisi, yang terjadi adalah industri dengan mudah oversupply. Di bisnis dengan margin yang tidak tinggi, hal ini tidak dapat menjadi pilihan. 

Untuk segmen pertumbuhan polyester tyre cord, pelanggannya juga terbatas, pemain ban serta automobile itupun juga tidak fragmented. They tend to stick with their choice dan karena sedikit pemainnya, they tend to be price sensitive (have higher power to bargain meski suppliernya sedikit juga). 



Namun demikian, pertumbuhan kebutuhan kain ban secara geografis tidaklah sama. Misalnya, Vietnam dengan China memiliki pertumbuhan lebih tinggi daripada kebutuhan kain ban di Indonesia dengan Thailand belakangan ini.


Ini semua tergantung dari pertumbuhan produksi mobil di regional masing-masing. Untuk Indonesia dengan Thailand, kedua negara ini memiliki kemampuan produksi 2 kali lipat dari produksinya yang sekarang, jadi tidak perlu ekspansi lagi, sudah siap jika ada memang siklus demand automotive datang.

Namun sayangnya, sampai sekarang belum ada kenaikan yang begitu signifikan. Maka dari itu Indo Kordsa juga enggan ekspansi. Pertumbuhan di phase consolidation memang tidaklah mudah. Seperti DRMA, mereka lebih pilih mengakuisisi daripada membuat dari awal.

Ketika growth sudah semakin challenging, pemain besar akan melakukan strategi non zeru sum. Misalnya price fixing meski tidak baik secara etika, atau membangun alliance satu sama lain. 

Dan untuk segmen pertumbuhan nylon tyre cord, khususnya untuk ban pesawat, pemainnya juga terbatas. 

Produksi kain ban pesawat juga tiap regional berbeda-beda. Tergantung juga dari pertumbuhan jumlah pesawat, dan jumlah turis kedepan.

Demand Growth is Financing Sensitive, Demand is Price Sensitive



Kalau anda sudah membuat dokumentasi annual report Indo Kordsa 12 tahun kebelakang, anda sudah tidak asing lagi dengan manajemen yang menyinggung ekonomi. Ini karena memang industri kain ban ini sangat senstitive dengan ekonomi. 

Ketika bank-bank besar sudah memiliki LDR yang ketat, bisa saja right issue, namun biasa pula insentif dicabut. Padahal yang membuat siklus automotive itu bangkit adalah insentif dan kemampuan financing suatu regional tersebut.

Dan ketika Industri sedang oversupply bahan baku (termasuk kain ban, yang adalah bahan baku), maka mau tidak mau harga jual juga semakin murah. Waktu 2021-2022 terjadi kelangkaan bahan baku (termasuk tyre cord yang adalah bahan baku). Namun pada tahun 2023, terjadi oversupply bahan baku tyre cord yang mengakibatkan turunnya harga bahan baku lainnya.


Bahan bakunya sebagian besar hasil impor

Apakah ada kemungkinan pertumbuhan produksi Nylon 6,6 kedepan? Ini tergantung dari supply Adiponitrile. Pemain-pemain besar sedang melakukan ekspansi untuk tahun-tahun kedepan. Karena memang selain untuk kain ban, nylon 6,6 bisa untuk bahan bangunan. Dan bisa juga untuk baju, dengan menambahnya supply adiponitrile, akan membuat nylon 6,6 dapat dimudahkan untuk berbagai macam kegunaan.




Gross Profit margin is Demand Oriented

Biasanya, ketika harga minyak murah, margin dari Indo Kordsa bisa lebih tinggi (2015-2016) daripada ketika bahan baku mahal, karena pelanggannya yang price sensitive (2011-2014). Namun ada saat dimana harga bahan baku murah, namun industri kain ban juga mengalami oversupply, sehingga margin tetap kecil (2023). Ada saatnya juga dimana ketika bahan baku mahal, namun margin bisa besar (2021-2022).

Namun bisa jadi seperti di tahun 2023 quarter 1 ini, ketika bahan baku dibagi revenue menghasilkan 61% dikarenakan demand yang turun dan industri oversupply, namun di quarter 3-4 membaik sehingga total GPM tahun 2023 tidak seburuk quarter 1 ini. Tentang masa depan tidak ada yang tahu (hal ini bisa dilihat dari kejadian Januari 2020, dan ketika ada berita mengenai virus dari binatang pada December 2019- yang sempat dikira sebagai serupa flu burung).

Sejarah Dividend dan Ekspansi Perusahaan


Dikarenakan perusahaan tidak secara massive ekspansi, maka tingkat dividend dengan reinvestment, lebih besar dividend dengan ratio 67%.

Laporan Produksi dalam 10 tahun ke belakang adalah seperti berikut:

Cara membacanya adalah produksi Polyester + Nylon dipindahkan menjadi produksi TCF. Kita dapat mengira berapa porsi penjualan polyester dibanding Nylon dengan membagikan produk segmen dengan jumlah TCF. 

Misal, pada tahun 2019, 50 kiloton tyre cord fabric terbuat terdiri dari 20 kiloton nylon 66 dan 30 kiloton polyester, yang sisanya bisa jadi inventory atau dijual begitu saja (Yarn product).

Dalam hal ini, kenaikan produksi TCF menandakan pertumbuhan. Namun bisa dilihat kalau memang pertumbuhannya tidak secepat bisnis dalam fase fragmented (industri fragmented itu belum ada pemain utama, masih memiliki market share yang kecil- bisa dicontohkan sebagai produk konsumsi yang baru, atau vaksin maupun obat-obatan).



Maka dari itu, kesimpulan dari key variablenya adalah:


Hal yang dapat mendisrupsi bisnis kain ban adalah bersifat material. Seperti dahulu cotton adalah yang paling widely used, namun karena ada polyester (yaitu alternative cotton, produk sintetis hasil synthetic chemist yang melihat memperdalam cotton), maka hal ini membuat manufaktur cotton pada tutup.

Begitu juga dengan black swan seperti unexpected innovation (materi baru- macam penicillin), perang dunia juga sampai lockdown.

Mobil terbang tidak terlalu, namun akan membuat turunnya demand kain ban polyester. Karena pesawat terbangpun butuh roda, begitu juga dengan mobil. Namun melihat helikopter tidak butuh roda, namun bersuara besar, bisa saja mobil nanti serupa helikopter demikian, tidak ada roda (hanya merepotkan kalau perlu jalan di darat).

Secara Finansial, baik cash flow maupun income statement kalian bisa kerjakan sendiri. Begitu juga dengan penggunaan cash flow. 

Ketahuilah, karena ini adalah perusahaan anak, dan induknya besar hutangnya, maka tentu untuk mengambil uang, induk dapat meminjam, atau dapat dari dividend.

Ada hal penting yang sudah singgung diatas, yaitu mengenai tanah yang tidak terpakai, itu kalau bisa digarap oleh perusahaan produksi polyester, maupun mobil adalah baik, sehingga bisa terintegrasi seperti perusahaan-perusahaan manufaktur di China.

Soal valuasi juga menurut personal masing-masing. Tapi untuk industri yang mana growthnya tidak secepat industri fragmented, yaitu dimana supply > demand, usahakanlah agar beli di harga murah, yaitu ketika bahan baku / revenue mahal (GPM rendah).

Terima kasih kepada seluruh manajemen Indo Kodsa, begitu juga dengan manajemen Kordsa beserta seluruh karyawan lainnya, yang bekerja bagai gear that turns the world. Maafkan saya jika saya lebih cepat berkata daripada berfikir dengan baik.

Saya belum pernah memisahkan kas Kordsa induk, dikarenakan didalam laporan keuangan Kordsa, bisa dilihat disini KORDSA GLOBAL itu terdapat kas yang dimiliki anak-anak Kordsa.

Untuk Induk mendapatkan kas dari anak-anak kordsa, bisa dapat dari dividend bisa dapat dari hutang.

Tanpa mengetahui berapa kas Induk Kordsa, saya tidak dapat berkata apa-apa mengenai pinjaman induk oleh Indo Kordsa sebesar lebih dari 10 juta USD.

Saya bukan siapa-siapa, hanya retail yang berusaha hidup dari Bursa Saham.

Bagi teman-teman yang membaca, untuk membeli saham tidak liquid itu saya sarankan untuk tidak bid. Mengapa? Karena bid besar membuat yang menjual tidak menjual. Justru tunggulah di harga dimana yang jual menjadi desperate, yaitu di harga murah.

Memegang saham tidak liquid itu banyak penyesalan. Karena tidak bisa switching, jadi kondisi porto laggard, baik ketika peak market, maupun ketika market lesu. Jadi lebih baik beli saham liquid ya teman-teman.

Terima kasih sudah membaca tulisan saya yang sederhana ini.